Kamis, 31 Januari 2013

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL KARYA TULIS ILMIAH FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS GANDUS PALEMBANG TAHUN 2010 OLEH SERLI FEBRIANA NIM : 08.03.050 AKADEMI KEBIDANAN RIZKI PATYA PALEMBANG TAHUN AKADEMIK 2010-2011 LEMBAR PERSETUJUAN Karya Tulis Ilmiah ini Telah Disetujui Untuk Dipertahankan Didepan Dewan Penguji Ujian Akhir Program Yang Diajukan Sebagai Syarat Untuk Mendapat Gelar Ahli Madya Kebidanan Nama : Serli Febriana NIM : 08.03.050 Program Study : Diploma III Kebidanan Judul : Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil di Puskesmas Gandus Palembang Tahun 2010. Palembang, Juli 2011 Mengetahui , Mengetahui , Direktur Akbid Rizki Patya Pembimbing (Dr.Dra.Hj.Husniyati Bastari,M.Kes) (Rosyati Pastuty, S.SiT. M. Kes) NRPS : 32.0906.200755 LEMBAR PENGESAHAN Dipertahankan di Hadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah Akademi Kebidanan Rizki Patya Palembang dan Diterima Untuk Memenuhi Sebagai Syarat Guna Memperoleh Gelar Ahli Madya Kebidanan DEWAN PENGUJI : 1. Rosyati Pastuty, S.SiT, M.Kes (………………………………) Ketua 2. Elita Vasrah, SST, M.Keb (………………………………) Anggota 3. Herdaisnita, SST (………………………………) Anggota Mengesahkan Akademi Kebidanan Rizki Patya Palembang Direktur, (Dr. Dra. Hj. Husniyati Bastari, M. Kes) NRPS : 32.0906.200755 DAFTAR RIWAYAT HIDUP A. Identitas Nama : Serli Febriana. NIM : 08.03.050. Tempat/ Tanggal Lahir : Baturaja, 02 Februari 1991. Agama : Islam. Status : Belum Menikah. Nama Ayah : Hamilin BSc. Nama Ibu : Farida Rostiati Spd. Alamat : Jalan Bambang Utoyo, Gang Majapahit II No. 09 Kecamatan. Muara Enim, Kabupaten. Muara Enim, Propinsi. Sumatra Selatan. B. Riwayat Pendidikan 1. TK Islam Baturaja Tahun 1996. 2. SD Negeri 01 Muara Enim Tahun 2002. 3. MTS Negeri Muara Enim Tahun 2005. 4. SMA Negeri 03 Muara Enim Tahun 2008. MOTTO DAN PERSEMBAHAN MOTTO : • Tidak usah sedih dan menyesali apa yang telah lewat, tidak perlu takut dengan apa yang belum datang, yang penting dengan PENUH SEMANGAT berbuatlah yang terbaik di saat sekarang. • Manusia tidak selamanya benar dan tidak selamanya salah, kecuali ia yang selalu mengoreksi diri dan membenarkan kebenaran orang lain atas kekeliruan diri sendiri. KUPERSEMBAHKAN KEPADA : • ALLAH SWT, yang telah memberikan segala nikmatnya yang tiada henti-hentinya….. • AYAH dan IBU, yang tiada kata lelah selalu mendukung, memotivasi serta memberikan doa yang tulus untukku dan memberikan apa yang terbaik yang mereka punya hanya untuk kesuksesan anaknya….. Jerih payah dan setetes keringatmu adalah seribu semangat yang telah mengantarkan anakmu sampai pada akhirnya berada dititik ini….. TRIMA KASIH AYAH IBU….. • Adik SINTA dan Adik FAHMI yang selalu memberikan semangat, dan bisa membuatku tertawa dan ceria kembali pada saat kepenatan datang..... • Ibu Rosyati Pastuty, S.SiT, M.Kes yang selalu ada waktu kapanpun untuk diskusi dan tidak pernah bosan memberikan bimbingan, nasehat, serta motivasinya (maaf yaa bu, serli sering ngerepotin ibu…..( ) • Seseorang yang kelak menjadi Imam dan Pasangan hidupku, yang masih rahasia ALLAH SWT….. • Teman teman seperjuangan, Terima kasih atas kebersamaan, kalian (Yuni, Mona, Ria, Peta, Ema…..( ) • Almamater tercinta….. • Semua pihak yang telah membantuku yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu….. ABSTRAK Febriana, Serli. 2011. Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil di Puskesmas Gandus Palembang Tahun 2010. KTI, Akademi Kebidanan Rizki Patya Palembang. Pembimbing : Rosyati Pastuty, S.SiT, M.Kes Kata Kunci : Umur, Paritas, Jarak Kehamilan, Ibu Hamil Dengan Anemia. Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih sangat tinggi yaitu 307/100.00, kelahiran hidup tingginya angka tersebut disebabkan antara lain oleh keadaan kesehatan dan gizi ibu yang rendah selama masa hamil, terlihat dengan masih banyaknya kejadian anemia Frekuensi anemia dalam kehamilan cukup tinggi, diseluruh dunia berkisar antara 10% dan 20%, Faktor umur, ANC, Paritas, dan Jarak Kehamilan, sangat berkaitan dengan kejadian anemia pada ibu hamil, karena umur ibu yang tidak dalam keadaan reproduksi sehat dimana kehamilan <20 tahun dan >35 tahun, ANC tidak sesuai standar, paritas yang tinggi dan jarak kelahiran yang terlalu dekat dapat menjadi penyebab anemia (Amiruddin, 2007). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan umur, paritas, dan jarak kehamilan dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Gandus Palembang Tahun 2010. Desain penelitian ini bersifat survey analitik dengan rancangan Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu hamil pada trimester III yang memeriksakan kehamilan di Puskesmas Gandus Palembang Tahun 2010 berjumlah 750 orang. Sampel diambil secara simpel random sampling dengan besar sampel 150 orang. Uji statistic dengan menggunakan uji Chi-Square untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Dari hasil penelitian, didapatkan umur ibu beresiko tinggi sebesar 50,0%, tingkat paritas tinggi sebesar 50,9%, dan jarak kehamilan risiko tinggi sebesar 48,3%. Melalui hasil analisis univariat yang menggunakan uji statistik Chi-Square α=0,000 berarti ada hubungan yang bermakna pada variabel umur ibu, α=0,000 berarti ada hubungan yang bermakna pada variabel tingkat paritas ibu, α=0,001 berarti ada hubungan yang bermakna pada variabel jarak kehamilan. Kesimpulan hipotesis yang menyatakan ada hubungan yang bermakna antara umur, paritas, dan jarak kehamilan dengan kejadian anemia pada ibu hamil dapat diterima atau terbukti secara statistik. Saran bagi petugas kesehatan rekam medik Puskesmas Gandus Palembang supaya menyediakan data yang mudah diakses demi kelancaran penelitian yang akan datang. Daftar bacaan : 18 (2002-2011) ABSTRACT Febriana, Serli. 2011. Factors Associated with Genesis Anemia In Pregnant Women in Health Center Gandus Palembang in 2010. KTI, Academy of Midwifery Rizki Patya Palembang. Supervisor : Rosyati Pastuty, S. SIT, M. Kes Keywords : Age, Parity, Distance Pregnancy, Pregnant Women With Anemia. Maternal mortality rate (MMR) in Indonesia is still very high, 307/100.00, high rates of live births was caused partly by the state of maternal health and nutrition during pregnancy are low, is still visible with the number of occurrences of iron nutritional anemia in pregnant women is 63, 5% (IDHS, 2003). The frequency of anemia in pregnancy is quite high, around the world ranges between 10% and 20%, due to a deficiency of food plays a very important role in the onset of anemia. Age factor, the ANC, Parity, and Pregnancy distance, is closely associated with the incidence of anemia in pregnant women, because age mothers who are not in a state of reproductive health which is pregnancy <20 years and> 35 years, the ANC is not standards-compliant, high parity and birth spacing that are too close can cause anemia (Amiruddin, 2007). The purpose of this study was to determine the relationship of age, parity, and spacing of pregnancy with the incidence of anemia in pregnant women at health centers Gandus Palembang in 2010. The design of this study are analytical survey with Cross Sectional design. The population in this study were all pregnant women at third trimester of their pregnancy at the health center Gandus Palembang in 2010 amounted to 750 people. Samples were taken by simple random sampling with a large sample of 150 people. Test statistics using Chi-Square test to determine the factors associated with the incidence of anemia in pregnant women. From the research, obtained the age of mothers at high risk of 50.0%, higher parity rate of 50.9%, and the distance of high risk pregnancies by 48.3%. Through the results of univariate analysis using Chi-Square statistical tests α = 0.000 means there is a significant relationship to maternal age variable, α = 0.000 means there is a significant relationship to the variable levels of maternal parity, α = 0.001 means there is a significant relationship to the variable spacing pregnancies . Conclusion The hypothesis that there is a significant association between age, parity, and spacing of pregnancy with the incidence of anemia in pregnant women can be accepted or proven statistically. Advice for health workers Gandus Palembang health center medical records in order to provide data that is easily accessible for smooth future studies. Reading list: 18 (2002-2011) KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr.Wb Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah yang berjudul “Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil di Puskesmas Gandus Palembang Tahun 2011”. Sebagai persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan Diploma III Kebidanan Rizki Patya Palembang. Tak lupa shalawat dan salam selalu tercurah kepada junjungan Kita Nabi Muhammad SAW beserta para Keluarga, Sahabat, dan Pengikut sampai akhir zaman. Penulis menyadari bahwa karya tulis ilmiah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna perbaikan dimasa mendatang dalam penyelesaian karya tulis ilmiah ini, penulis banyak mendapat bantuan, bimbingan dan saran dari dosen pembimbing ibu Rosyati Pastuty,S.SiT.M.Kes dan dari semua pihak, baik yang diberikan secara lisan maupun tulisan. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa hormat dan terima kasih. Kepada : 1) Bapak Syamsul Bahri Selaku Ketua Yayasan Akademi Kebidanan Rizki Patya Palembang. 2) Ibu Dr.Dra.Hj. Husniyati Bastari, M.Kes Selaku Direktur Akademi Kebidanan Rizki Patya Palembang. 3) Bapak Kepala Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Selatan berserta staf yang telah memberikan bantuan kepada penulis dalam pengambilan data untuk penelitian. 4) Pimpinan dan staf di Puskesmas Gandus Palembang yang telah banyak memberikan bantuan kepada penulis dalam pengambilan data untuk penelitian. 5) Seluruh Staf dosen dan karyawan Akademi Kebidanan Rizki Patya Palembang atas ilmu yang telah di berikan. 6) Orang tua, saudaraku tercinta yang telah banyak membantu dengan doa yang tulus dan memberikan bimbingan moral maupun spiritual. 7) Teman-teman seperjuangan serta semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan proposal karya tulis ilmiah ini. Semoga Allah SWT memberikan balasan pahala atas segala amal yang telah diberikan dan semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita dan perkembangan ilmu pegetahuan. Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT. Amin Wassalamu’alaikum Wr.Wb Palembang, Maret 2011 Penulis, DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL i LEMBAR PERSETUJUAN ii LEMBAR PENGESAHAN iii DAFTAR RIWIYAT HIDUP iv MOTO DAN PERSEMBAHAN v ABSTRAK vi KATA PENGANTAR viii DAFTAR ISI xi DAFTAR GAMBAR xiv DAFTAR TABEL xv DAFTAR LAMPIRAN xvi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 1.2 Rumusan Masalah 4 1.3 Tujuan Penelitian 4 1.4 Manfaat Penelitian 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kehamilan 6 2.2 Konsep Dasar Anemia 8 2.3 Anemia Dalam Kehamilan 9 2.4 Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil 14 BAB III KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS 3.1 Kerangka Konsep 18 3.2 Definisi Operasional 19 3.3 Hipotesis 21 BAB IV METODELOGI PENELITIAN 4.1. Desain Penelitian 22 4.2. Populasi Penelitian 22 4.3. Sampel Penelitian 22 4.4. Lokasi dan Waktu Penelitian 23 4.5. Teknik Dan Instrumen Pegumpulan Data 24 4.6. Pengolahan Data 24 4.7. Analisis Data 25 BAB V HASIL PENELITIAN 5.1. Gambaran Umum Puskesmas Gandus Palembang 26 5.2. Analisis Data 31 BAB VII PEMBAHASAN 6.1 Umur 37 6.2 Paritas 39 6.3 Jarak Kehamilan 41 BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan 44 7.2 Saran 46 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang World Health Organization (WHO) memperkirakan sekitar 10% kelahiran hidup mengalami komplikasi pendarahan pascapersalinan. Komplikasi paling sering dari pendarahan pascapersalinan adalah anemia. Jika kehamilan terjadi pada seorang ibu yang telah menderita anemia, maka pendarahan pascapersalinan dapat memperberat keadaan anemia dan dapat berakibat fatal (Saifuddin, 2010). Salah satu indikator tingkat kesehatan yang penting dan tantangan bagi bangsa Indonesia adalah masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) yaitu 307/100.00 kelahiran hidup, tingginya angka tersebut disebabkan antara lain oleh keadaan kesehatan dan gizi ibu yang rendah selama masa hamil, terlihat dengan masih banyaknya kejadian anemia gizi besi pada ibu hamil yaitu 63,5% (SDKI, 2003). Frekuensi anemia dalam kehamilan cukup tinggi, diseluruh dunia berkisar antara 10% dan 20%. Karena defisiensi makanan memegang peranan yang sangat penting dalam timbulnya anemia maka dapat di pahami bahwa frekuensi itu lebih tinggi dari negara berkembang seperti Indonesia. Menurut penelitian Tjiong dalam Sarwono (2007), frekuensi anemia dalam kehamilan setinggi 18,5%, dan wanita hamil dengan Hemoglobin (Hb) 12 g/100 ml atau lebih sebanyak 23,6%, dalam trimester I Hb rata-rata 12,3 gr/ml, dalam trimester II Hb rata-rata 11,3 g/100 ml, dan dalam trimester III Hb rata-rata 10,8 g/100 ml, Hal ini disebabkan karena pengenceran darah menjadi makin nyata dengan lanjutnya umur kehamilan, sehingga frekuensi anemia dalam kehamilan menjadi meningkat (Sarwono, 2007). Anemia pada umumnya terjadi diseluruh dunia, terutama di negara berkembang (developing countries) dan pada kelompok sosial-ekonomi rendah. Pada kelompok dewasa terjadi pada wanita usia reproduksi, terutama wanita hamil dan wanita menyusui karena mereka banyak yang mengalami defisiensi Fe. Secara keseluruhan, anemia terjadi pada 45% wanita di negara berkembang dan 13% di negara maju (developed countries). Terdapat 12% di Amerika, wanita usia subur (WUS) 15-49 tahun, adalah 11% wanita hamil usia subur mengalami anemia. Sementara persentase wanita hamil dari keluarga miskin terus meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan (dalam trimester I terjadi anemia sebesar 8%, dalam trimester II terjadi anemia sebesar 12%, dan dalam trimester ke III terjadi anemia sebesar 29%). Anemia pada wanita masa nifas (pascapersalinan) juga umum terjadi, sekitar 10% dan 22% terjadi pada wanita postpartum dari keluarga miskin (Fatmah, 2008). Seorang wanita hamil yang memiliki kadar Hb kurang dari 10 gr/ 100 ml disebut menderita anemia dalam kehamilan, Karena itu, para wanita hamil dengan Hb antara 10 dan 12 g/ 100 ml tidak dianggap menderita anemia patologik, akan tetapi anemia fisiologik atau pseudoanemia (Sarwono, 2007). Prevalensi anemia pada wanita hamil di Indonesia berkisar 20-80%, tetapi pada umumnya banyak penelitian yang menunjukkan prevalensi anemia pada wanita hamil yang lebih besar dari 50%. Hal yang sama diperoleh dari hasil penelitian Wahyudin (2008) dimana prevalensi anemia ringan dan berat akan makin tinggi dengan bertambahnya paritas. Berdasarkan hasil surfey cepat anemia gizi pada ibu hamil di Palembang pada tahun 2006 jumlah ibu hamil yang mengalami anemia gizi sebesar 27,30%. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan prevalensi anemia gizi dibandingkan hasil pengukuran kadar Hb tahun 2001 sebesar 20,06% (Data Kesehatan Provinsi Sumsel, 2007). Faktor Umur, ANC, Paritas, dan Jarak Kehamilan, sangat berkaitan dengan kejadian anemia pada ibu hamil, karena umur ibu yang tidak dalam keadaan reproduksi sehat dimana kehamilan <20 tahun dan >35 tahun, ANC yang tidak sesuai standar, paritas yang tinggi dan jarak kelahiran yang terlalu dekat dapat menjadi penyebab anemia (Amiruddin, 2007). Setiap tahun sekitar 160 juta perempuan diseluruh dunia dalam keadaan hamil. Sebagian besar kehamilan ini berlangsung dengan aman. Namun, sekitar 15% menderita komplikasi berat, dengan sepertiganya merupakan komplikasi yang mengancam jiwa ibu. Komplikasi ini mengakibatkan kematian lebih dari setengah juta ibu setiap tahun (Saifuddin, 2010). Kematian ibu dibagi menjadi kematian langsung dan tidak langsung. Kematian ibu langsung adalah sebagai akibat komplikasi kehamilan, persalinan, atau masa nifas, dan segala intervensi atau penanganan tidak tepat dari komplikasi tersebut. Kematian ibu tidak langsung merupakan akibat dari penyakit yang sudah ada atau penyakit yang timbul sewaktu kehamilan, misalnya malaria, anemia, HIV/AIDS, dan penyakit kardiovaskular (Saifuddin, 2010). Berdasarkan data di Puskesmas Gandus Palembang tahun 2008 jumlah ibu hamil dengan anemia sebesar 85 orang dari 1422 ibu hamil (5,9%), pada tahun 2009 jumlah ibu hamil dengan anemia sebesar 197 orang dari 1495 ibu hamil (13,1%), sedangkan pada tahun 2010 jumlah ibu hamil dengan anemia sebesar 215 orang dari 1426 ibu hamil (15,1%). Berdasarkan data tersebut diatas dapat dilihat terjadinya peningkatan kejadian anemia selama kurun waktu 3 tahun. Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Kejadian Anemia pada Ibu Hamil di Puskesmas Gandus Palembang Tahun 2011” . 1.2 Rumusan Masalah - Meningkatnya kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Gandus Palembang Tahun 2010. Pertanyaan peneliti - Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi anemia pada ibu hamil di Puskesmas Gandus Palembang Tahun 2010? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Gandus Palembang Tahun 2010. 1.3.2 Tujuan Khusus 1. Untuk mengetahui hubungan umur ibu dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Gandus Palembang Tahun 2010. 2. Untuk mengetahui hubungan paritas ibu dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Gandus Palembang Tahun 2010. 3. Untuk mengetahui hubungan jarak kehamilan dengan kejadian anemia pada ibu hamil di Puskesmas Gandus Palembang Tahun 2010. 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Institusi Pendidikan Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan informasi bagi peserta didik serta sebagai bahan bacaan/literature bagi mahasiswa Akademi Kebidanan Rizki Patya Palembang. 1.4.2 Bagi Puskesmas Gandus Palembang Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan bagi puskesmas untuk meningkatkan mutu dan pelayanan, khususnya ibu hamil dengan anemia. 1.4.3 Bagi Peneliti Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan serta wawasan peneliti khususnya tentang anemia dalam kehamilan dan sebagai upaya pencegahannya dan sebagai aplikasi langsung ke lapangan dari mata kuliah Metodelogi Penelitian dan Biostatistika. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kehamilan 2.1.1 Pengertian Kehamilan adalah masa di mulainya konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan, triwulan kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan, triwulan ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan (Sarwono, 2006). Kehamilan mulai dari ovulasi sampai partus adalah kira-kira 280 hari (40 minggu), dan tidak lebih dari 300 hari (43 minggu). Kehamilan 40 minggu ini disebut kehamilan matur (cukup bulan). Bila kehamilan lebih dari 43 minggu di sebut kehamilan postmatur. Kehamilan antara 28 dan 36 minggu disebut kehamilan prematur (Wiknjosastro, 2007). 2.1.2 Usia kehamilan Menurut Hani (2010), kehamilan dibagi dalam 3 trimerter : 1. Trimester I (konsepsi sampai 12 minggu) 2. Trimester II (13 minggu sampai 27 minggu) 3. Trimester III (28 minggu sampai 40 minggu) 2.1.3 Diagnosis Kehamilan Menurut Hani (2010), diagnose kehamilan terbagi menjadi tiga yaitu : 1. Tanda Tidak Pasti Tanda tidak pasti adalah perubahan-perubahan fisiologis yang dapat dikenali dari pengakuan-pengakuan atau yang dirasakan oleh wanita hamil. Tanda tidak pasti terdiri dari : - Amenorea (berhentinya menstruasi) - Mual (nausea) dan muntah (emesis) - Ngidam (mengingini makanan tertentu) - Syncope (pingsan) - Kelelahan - Payudara tegang - Sering miksi - Konstipasi atau abstipasi - Pigmentasi kulit - Epulis 2. Tanda Kemungkinan Tanda kemungkinan adalah perubahan-perubahan fisiologis yang dapat diketahui oleh pemeriksa dengan melakukan pemeriksaan fisik kepada wanita hamil. Tanda kemungkinan terdiri dari : - Pembesaran perut - Tanda hegar - Tanda goodel - Tanda Chadwicks - Tanda Piscaseck - Kontraksi Braxton hicks - Teraba Ballotement - Pemeriksaan tes biologis kehamilan (planotest) positif. 3. Tanda Pasti Tanda pasti adalah tanda yang menunjukkan langsung keberadaan janin, yang dapat dilihat langsung oleh pemeriksa. Tanda pasti terdiri dari : - Gerakan janin dalam rahim - Denyut jantung janin - Bagian-bagian janin - Kerangka janin 2.2 Konsep Dasar Anemia 2.2.1. Definisi Anemia adalah suatu kondisi dimana berkurangnya sel darah merah (eritrosit) dalam sirkulasi darah atau massa Hemoglobin sehingga tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai pembawa oksigen keseluruhan jaringan (Tarwoto, 2007). Menurut WHO anemia adalah suatu keadaan dimana kadar Hemoglobin lebih rendah dari batas normal untuk kelompok orang yang bersangkutan. 2.2.2. Kriteria Anemia Kriteria Anemia menurut WHO adalah : 1. Wanita dewasa tidak hamil : Hemoglobin <12 gr% 2. Wanita hamil : Hemoglobin <11 gr% 2.2.3. Derajat Anemia Menurut Tarwoto, (2007) Departemen Kesehatan menetapkan derajat anemia sebagai berikut : 1. Ringan sekali : Hb 11 g/dl - batas normal 2. Ringan : Hb 8 g/dl - <11 g/dl 3. Sedang : Hb 5 g/dl - <8 g/dl 4. Berat : Hb <5 g/dl 2.3. Anemia Dalam Kehamilan 2.3.1. Pengertian Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar Hemoglobin <11 gr% pada trimester I dan III atau pada trimester II kadar Hemoglobin <10,5% (Sarwono, 2002). Anemia adalah penurunan jumlah sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin dalam sirkulasi darah. Anemia juga dapat didefinisikan sebagai tingkat hemoglobin <12,0 g per 100 mL (12 g/ dL) darah pada wanita tidak hamil dan <10,0 g per 100 mL (10 g/dL) darah pada wanita hamil (Varney, 2004). 2.3.2. Penyebab Penyebab utama anemia pada wanita adalah kurang memadainya asupan makanan sumber Fe (Fatmah, 2008). Menurut Tarwoto (2007), penyebab anemia pada umumnya adalah sebagai berikut : - Kurang gizi (malnutrisi) - Kurang zat besi - Malabsorpsi - Kehilangan darah banyak seperti persalinan yang lalu, haid dan lain-lain - Penyakit-penyakit kronik seperti TBC paru, cacing usus, malaria, dan lain-lain 2.3.3. Tanda dan Gejala Menurut Varney (2004) walaupun tanpa gejala, anemia dapat menyebabkan tanda dan gejala sebagai berikut : - Lelah dan mengantuk - Pusing dan lemah - Masuk angin - Sakit kepala - Rasa tidak enak di lidah - Kulit pucat - Mukus membran pucat - Kuku tangan pucat - Pernah mengalami menstruasi berlebihan, Khususnya dalam durasi beberapa hari - Sejarah kehamilan yang berdekatan - Sejarah anemia saat hamil - Hilang nafsu makan, mual, dan muntah 2.3.4. Klasifikasi Anemia dalam Kehamilan 1. Anemia Defisiensi Besi Anemia defisiensi besi merupakan jenis anemia terbanyak didunia. Terutama pada negara miskin dan berkembang. Anemia defisiensi besi merupakan gejala kronis dengan keadaan hiprokromik (kosentrasi hemoglobin kurang) (Tarwoto, 2007). Penyakit ini lebih dikenal dengan penyakit kurang darah, yang disebabkan kekurangan zat besi dalam jumlah yang tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kehilangan zat besi yang meningkat disebabkan oleh investasi cacing (Tarwoto, 2007). 2. Anemia Megaloblastik Anemia yang disebabkan karena kerusakan sintesis DNA yang mengakibatkan tidak sempurnanya SDM. Keadaan ini disebabkan karena defisiensi Vit B12 (Cobalamin) dan asam folat. Karakteristik Sel SDM, dalam darah dan sumsum tulang. Sel megaloblas ini fungsinya tidak normal, dihancurkan semasa dalam sum-sum tulang sehingga terjadinya eritropoesis tidak efektif dan masa hidup eritropoesis lebih pendek (Tarwoto, 2007). 3. Anemia Hipoplastik Anemia pada wanita hamil yang disebabkan karena sum-sum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah baru, dinamakan anemia hipoplastik dalam kehamilan (Sarwono, 2007). Etiologi anemia hipoplastik karena kehamilan hingga kini belum diketahui dengan pasti, kecuali yang disebabkan oleh sepsis, sinar Roentgen, racun, atau obat-obat. Dalam hal yang terakhir anemianya dianggap hanya sebagai komplikasi kehamilan (Sarwono, 2007). Karena obat-obat penambah darah tidak memberi hasil, maka satu-satunya cara untuk memperbaiki keadaan penderita ialah tranfusi darah, yang sering perlu diurai sampai beberapa kali (Sarwono, 2007). 4. Anemia Hemolitik Anemia Hemolitik adalah anemia yang terjadi karena meningkatnya penghancuran sel darah merah. Dalam keadaan normal, sel darah merah mempunyai waktu hidup 120 hari. Jika menjadi tua, sel pemakan dan sumsum tulang, limpa dan hati dapat mengetahuinya dan merusaknya (Kusumawardani, 2010). Jika suatu penyakit menghancurkan sel darah merah sebelum waktunya (hemolisis), sumsum tulang berusaha menggantinya dengan mempercepat pembentukan sel darah merah yang baru, sampai 10 kali kecepatan normal. Jika penghancuran sel darah merah melebihi pembentukannya, maka akam terjadi anemia hemolitik (Kusumawardani, 2010). 2.3.5. Pengaruh Anemia dalam Kehamilan Anemia dapat berpengaruh terhadap kehamilan, baik itu selama kehamilan, dalam masa persalinan, pada masa nifas dan memberikan pengaruh juga pada janin yang ada dalam kandungan (Sarwono, 2007). Menurut Sarwono (2007) Penyulit yang dapat timbul akibat anemia, seperti : 1. Abortus 2. Partus prematurus 3. Partus lama karena inertia uteri 4. Pendarahan post partum karena Antonia uteri 5. Syok 6. Infeksi, baik intrapartum maupun post partum 7. Anemia yang sangat berat dengan Hb <4 gr/100 ml Hipoksia akibat anemia dapat menyebabkan syok dan kematian ibu pada persalinan sulit, walaupun tidak terjadi pendarahan. Menurut Sarwono (2007) bagi hasil konsepsi anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik, seperti : 1. Kematian mudigah 2. Kematian perinatal 3. Prematuritas 4. Terjadi cacat bawaan 5. Cadangan zat besi kurang 2.4. Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil 2.4.1. Umur Keadaan yang membahayakan saat hamil dan meningkatkan bahaya terhadap bayinya adalah usia saat <20 tahun atau >35 tahun. Kejadian anemia pada ibu hamil pada usia <20 tahun, karena ibu muda tersebut membutuhkan zat besi lebih banyak untuk keperluan pertumbuhan diri sendiri serta bayi yang akan dikandungnya (Wahyudin, 2008). Secara teori umur <25 tahun secara biologis mentalnya belum optimal dengan emosi yang cenderung labil, mental yang belum matang sehingga mudah mengalami keguncangan yang mengakibatkan kekurangannya perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan zat gizi terkait dengan penurunan daya tahan tubuh serta berbagai penyakit yang sering menimpa diusia ini. Berbagai faktor yang saling berpengaruh dan tidak menutup kemungkinan usia yang matang sakalipun untuk hamil yaitu usia 25-35 tahun angka kejadian anemia jauh lebih tinggi (Herlina, 2009). Umur <20 tahun membutuhkan zat besi lebih banyak untuk keperluan pertumbuhan diri sendiri serta janin yang akan dikandungnya. Sedangkan zat besi yang dibutuhkan selama hamil 17 mg (Soebroto, 2010). Wanita yang berumur <20 tahun atau >35 tahun, mempunyai risiko yang tinggi untuk hamil. Karena sangat membahayakan kesehatan dan keselamatan ibu hamil maupun janinnya. Berisiko mengalami pendarahan dan dapat menyebabkan ibu mengalami anemia. Usia ibu dapat mempengaruhi timbulnya anemia adalah semakin rendah usia ibu hamil maka samakin rendah kadar Hemoglobin. Penelitian Herlina (2009), di Bogor menunjukan adanya kecenderungan semakin tua umur ibu hamil maka kejadian anemia semakin besar. Umur >35 tahun mempunyai risiko untuk hamil karena umur >35 tahun, dimana alat reproduksi ibu hamil sudah menurun dan kekuatan untuk mengejan saat melahirkan sudah berkurang sehingga anemia pun terjadi pada saat ibu hamil umur <35 tahun (Sarwono 2006). 2.4.2. Paritas Paritas adalah jumlah anak yang telah dilahirkan oleh seorang ibu baik lahir hidup maupun lahir mati. Seorang ibu yang sering melahirkan mempunyai risiko mengalami anemia pada kehamilan berikutnya apabila tidak memperhatikan kebutuhan nutrisi. Karena selama hamil zat-zat gizi akan terbagi untuk ibu dan untuk janin yang dikandungnya (Herlina, 2009). Paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal. Paritas 1 dan paritas tinggi >3 mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi. Lebih tinggi paritas, lebih tinggi kematian maternal. Risiko pada paritas 1 dapat ditangani dengan asuhan obstetrik lebih baik, sedangkan risiko pada paritas tinggi dapat dikurangi atau dicegah dengan keluarga berencana. Sebagian kehamilan pada paritas adalah tidak direncanakan (Herlina, 2009). Paritas >3 tahun dapat meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan, seperti meningkatkan risiko terjadinya kematian janin didalam kandungan dan pendarahan sebelum dan setelah melahirkan, lebih sering dijumpai pada wanita hamil yang anemia dan hal ini dapat berakibat vatal, sebab wanita hamil yang anemia tidak dapat mentoleransi kehilangan darah (Soebroto, 2010). Kecendrungan bahwa semakin banyak jumlah kelahiran (paritas), maka akan semakin tinggi angka kejadian anemia (Wahyudin, 2008). 2.4.3. Jarak Kehamilan Jarak kehamilan adalah waktu sejak ibu hamil sampai terjadi kelahiran berikut. Jarak kelahiran terlalu dekat dapat menyebabkan terjadi anemia (Wahyudin, 2008). Salah satu penyebab yang dapat mempercepat terjadinya anemia pada wanita hamil adalah jarak kehamilan pendek (Herlina, 2009). Jarak kehamilan yang terlalu dekat dapat menyebabkan terjadinya anemia, karena kondisi ibu masih belum pulih dan pemenuhan kebutuhan zat-zat gizi belum optimal, sudah harus memenuhi kebutuhan nutrisi janin yang dikandungnya (Fahriansjah, 2009). Berdasarkan analisis data diperoleh bahwa responden paling banyak menderita anemia pada jarak kehamilan <2 tahun. Hasil uji memperlihatkan bahwa jarak kelahiran mempunyai risiko lebih besar terhadap kejadian anemia (Fahriansjah, 2009). 2.4.4 Frekuensi Antenatal Care ANC adalah pelayanan ibu hamil dan janinnya oleh tenaga professional meliputi pemeriksaan kehamilan sesuai dengan standar pelayanan yaitu minimal 4 kali pemeriksaan selama kehamilan. 1 kali pada trimester I, 1 kali pada trimester II, dan 2 kali pada trimester III. Dengan pemeriksaan ANC kejadian anemia dapat dideteksi sedini mungkin sehingga dapat diharapkan ibu dapat merawat dirinya selama hamil (Wahyudin, 2008) Pelayananan antenatal care adalah pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh tenaga professional yaitu Dr. Ginekologi dan Bidan serta memenuhi syarat 7 T (BB, TD, TFU, TT, Tablet Fe, Tes PMS, Temu wicara). Penelitian ini tidak menunjukkan semakin rendah frekuensi antenatal care, maka semakin tinggi angka kejadian anemia (Fariansjah, 2009). 2.4.5 Status Gizi Terjadinya anemia pada ibu hamil dimungkinkan karena pada saat kehamilan salah satunya yaitu ibu hamil mengalami masalah gizi yaitu status gizi KEK yang disebabkan asupan makan yang kurangnya, sehingga cadangan zat besi dalam tubuh berkurang, kurangnya pemanfaatan perawatan selama kehamilan atau ANC (Ante Natal Care) pada ibu selama kehamilan berlangsung yang mempengaruhi terjadinya anemia pada ibu hamil tidak terpantau dengan baik status gizi dan kadar Hb (Wahyudin, 2008). Gizi seimbang adalah pola konsumsi makan sehari-hari yang sesuai dengan kebutuhan gizi setiap individu untuk hidup sehat dan produktif. Agar sasaran keseimbangan gizi dapat dicapai, maka setiap orang harus menkonsumsi minimal 1 jenis bahan makanan dari tiap golongan bahan makanan yaitu KH, protein hewani dan nabati, sayuran, buah dan susu (Fariansjah, 2009). Penelitian menunjukkan adanya kecendrungan bahwa semakin kurang baik pola makan, maka akan semakin tinggi angka kejadian anemia (Fariansjah, 2009). BAB III KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS 3.1 Kerangka Konsep Kerangka konsep dalam suatu penelitian adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan. Konsep hanya dapat diamati dan diukur melalui konstruk atau yang lebih dikenal dengan nama variabel. Variabel adalah ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota kelompok yang berbeda dengan kelompok lain. Variabel dibedakan menjadi dua, yaitu variabel independen (bebas, sebab, mempengaruhi) dan variabel dependen (tergantung, akibat, terpengaruh) (Notoarmojo, 2005). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu hamil adalah umur, paritas, jarak kehamilan, frekuensi antenatal care, dan status gizi ( Herlina, 2008). Tidak semua faktor diteliti karena keterbatasan kemampuan dan waktu penelitian, peneliti hanya meneliti faktor umur, paritas, dan jarak kehamilan. Adapun variabel penelitian ini secara sistematis akan digambarkan pada kerangka konsep di bawah ini: Variabel Independen Variabel Dependen Bagan 3.1 Kerangka Konsep 3.2 Definisi Operasional 3.2.1 Variabel Dependen Anemia 1. Pengertian : Ibu hamil dengan anemia berdasarkan catatan Kohort dengan kadar hemoglobin <11 gr% 2. Cara ukur : Mencatat Data Kohort 3. Alat ukur : Check List 4. Hasil ukur : 1. Anemia : Bila kadar Hb ibu hamil <11 gr% : 2. Tidak anemia : Bila kadar Hb ibu hamil ≥11 gr% 5. Skala ukur : Ordinal 3.2.2 Variabel Independen Umur 1. Pengertian : Usia ibu pada saat hamil sekarang yang tercatat di Kohort 2. Cara ukur : mencatat Data Kohort 3. Alat ukur : Check list 4. Hasil ukur : 1. Risiko tinggi : Jika umur ibu hamil <20 - >35 tahun : 2. Risiko rendah : Jika umur ibu hamil 20 – 35 tahun 5. Skala Ukur: Ordinal Paritas 1. Pengertian : Jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang ibu baik lahir hidup maupun mati 2. Cara ukur : Mencatat Data Kohort 3. Alat ukur : Check List 4. Hasil ukur : 1. Tinggi : Bila jumlah anak >3 orang : 2. Rendah : Bila jumlah anak ≤3 orang 5. Skala Ukur: Ordinal Jarak Kehamilan 1. Pengertian : Jarak kehamilan sebelumnya dengan kehamilan sekarang. 2. Cara ukur : Mencatat Data Kohort 3. Alat ukur : Check List 4. Hasil ukur : 1. Risiko : Jika jarak kehamilan <2 tahun : 2. Tidak risiko : Jika jarak kehamilan ≥2 tahun 5. Skala Ukur : Ordinal 3.3 Hipotesis 1. Ada hubungan umur ibu dengan kejadian anemia di wilayah Puskesmas Gandus Palembang Tahun 2010. 2. Ada hubungan paritas dengan kejadian anemia di wilayah Puskesmas Gandus Palembang tahun 2010. 3. Ada hubungan jarak kehamilan dengan kejadian anemia di Puskesmas Gandus Palembang Tahun 2010. BAB IV METODELOGI PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian Metode penelitian ini adalah survey analitik yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional dimana variabel indevenden pada penelitian ini umur, paritas, dan jarak kehamilan sebagai variabel individu dan ibu hamil yang terkena anemia sebagai variabel dependen dalam waktu bersamaan (Notoadmodjo, 2005). 4.2 Populasi penelitian Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti tersebut (Notoadmodjo, 2005). Populasi dalam penelitian adalah semua ibu hamil pada trimester III yang memeriksakan kehamilannya di Puskesmas Gandus Palembang Tahun 2010 berjumlah 750 orang. 4.3 Sample Penelitian Sampel adalah sebagian diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoadmodjo, 2005) Sample penelitian ini adalah ibu hamil pada trimester III yang memeriksakan kehamilannya di Puskesmas Gandus Palembang Tahun 2010. 1. Besar Sampel Besar sampel penelitian di hitung dengan rumus dari (Notoadmodjo, 2005) n = Keterangan: N : Besar populasi n : Besar sampel d : Penyimpanan terhadap populasi atau derajat ketetapan yang diinginkan (0,1) 2. Cara Pengambilan Sampel Teknik pengambilan sampel menggunakan metode Rondom Sampling (Simple Random Sampling) Pengambilan sampel secara acak sederhana (Notoatmodjo, 2005). 4.4 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.4.1 Lokasi Penelitian Penelitian akan dilakukan di Puskesmas Gandus Palembang tahun 2011. 4.4.2 Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret – Juli tahun 2011. 4.5 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 4.5.1 Teknik Pengumpulan Data Tehnik pengumpulan data dilakukan peneliti dengan mencatat data Kohort. Data sekunder yaitu data diperoleh dari suatu lembaga atau instalasi. Penelitian ini langsung diperoleh dari mencatat data Kohort seluruh ibu hamil yang pernah memeriksakan kehamilan di Puskesmas Gandus Palembang tahun 2011 berdasarkan karakteristik umur paritas dan jarak kehamilan. 4.5.2 Instrumen Pengumpulan Data Instrumen pengumpulan data menggunakan Check List. Check List adalah suatu daftar penggerak, berisi nama subjek dan beberapa gejala atau identitas dari sasaran pengamatan. 4.6 Pengolahan Data 4.6.1 Coding (Pengkodean) Data yang didapat dari Kohort diklasifikasikan menurut jenis/klasifikasi dengan menggunakan kode 4.6.2 Editing (Pengeditan data) Editing adalah meneliti kembali apakah data yang sudah didapat dari Kohort sudah cukup baik untuk segera diproses lebih lanjut. 4.6.3 Entry Data (Pemasukan Data) Data – data yang telah diberi kode selanjutnya dimasukkan ke dalam table atau perangkat computer yang sudah disediakan. 4.6.4 Cleaning Data (Pembersihan data) Data diperiksa kembali sehingga benar–benar bebas dari kesalahan sehingga dapat diuji kebenarannya. 4.7 Analisa Data 4.7.1 Analisa Univariat Analisa Univariat bertujuan untuk mendapatkan gambar dengan melihat distribusi frekuensi dan persentase dari tiap variabel yaitu guna mendapatkan gambaran dari variabel dependen yaitu kejadian anemia pada ibu hamil dan variabel independen yaitu umur paritas dan jarak kehamilan. 4.7.2 Analisa Bivariat Analisa Bivariat bertujuan untuk melihat hubungan antara variabel bebas (umur, paritas dan jarak kehamilan) dan variabel terikat (anemia pada ibu hamil) dengan menggunakan uji ststistik Chi – Square (X2) dan tingkat kemaknaan α=0,05 serta Confident Interval (CI= 95%). BAB V HASIL PENELITIAN 5.1 Gambaran Umum Puskesmas Gandus Palembang 5.1.1 Gambaran Wilayah 1. Lokasi Puskesmas Gandus ini terletak di jalan TP.H.Sopjan Kenawas Kelurahan Gandus, Kecamatan Gandus Kota Palembang yang lokasinya cukup strategis dan mudah dijangkau oleh masyarakat karena berada ditepi jalan raya dan dilalui angkutan umum. Kondisi alam wilayah kerja Puskesmas Gandus beragam terdiri dari sungai besar dan anak sungai, rawa, perbukitan yang mana masing-masing daerah memiliki karakteristik tertentu. Sebagian dapat dicapai dengan kendaraan roda empat dan sebagian lagi hanya dapat dilalui kendaraan roda dua bahkan terdapat juga daerah yang hanya dapat dicapai dengan kendaraan sungai dan jalan kaki. Puskesmas Gandus dibangun tahun 1980 diatas tanah seluas 1.254 M2 dengan panjang 57 M dan lebar 22 M dengan luas bangunan seluruhnya 518 M2. Pada tahun 2006 Puskesmas Gandus mendapat bantuan dari SCHS untuk merehab kondisi gedung Puskesmas yang lama dengan luas bangunan 196 M2 sehingga Puskesmas Gandus mempunyai Gedung Utama. Puskesmas Gandus terdiri dari 4 unit Puskesmas Pembantu, 1 unit klinik terapung, 1 unit puskeskel, yaitu sebagai berikut : I. Puskesmas Pembantu : 1. Puskesmas Pembantu Air Itam Pulokerto 2. Puskesmas Pembantu Suak Bujang 3. Puskesmas Pembantu Karang Anyar 4. Puskesmas Pembantu 36 Ilir II. 1 Unit Klinik Terapung Pulokerto III. 1 Unit Poskeskel Karang Jaya 5.1.2 Demografi Puskesmas Gandus Palembang Tabel 5.1 Demografi Puskesmas Gandus Palembang Tahun 2010 No Data Jumlah Keterangan 1 Jumlah Penduduk 56449 Jiwa 2 Penduduk Laki-laki 27787 Jiwa 3 Penduduk Perempuan 28662 Jiwa 4 Bayi (0-1 tahun) 1411 Jiwa 5 Batita (1-3 tahun) 3057 Jiwa 6 Balita (3-5 tahun) 2459 Jiwa 7 PUS 9313 Jiwa 8 Bumil 1467 Jiwa 9 Bulin 1411 Jiwa 10 Usia Laki-laki (> 60 tahun) 2386 Jiwa 11 Usia Perempuan (> 60 tahun) 2825 Jiwa 12 KK 13116 KK 13 Sasaran Gakin 1428 KK 14 RT 160 RT 15 RW 40 RW 16 Posyandu 41 Unit 17 Kader Kesehatan 205 Orang Sumber : Data Demografi Puskesmas Gandus Palembang Tahun 2010. 5.1.3 Staf dan tenaga Kesehatan di Puskesmas Gandus Keterangan di Puskesmas Gandus termasuk 4 Pustu, 1 Klinik Terapung, 1 Unit Peskeskel sebagai berikut : Tabel 5.2 No Jabatan Pegawai Jumlah Keterangan 1 Dokter Umum 4 Orang 2 Dokter Spesialis Peny.Dalam 1 Orang 3 Dokter Spesialis Kebidanan 1 Orang 4 Dokter Gigi 1 Orang 5 Sarjana Kesehatan Masyarakat 5 Orang 6 Sarjana Keperawatan, Ns 2 Orang 1 Orang Honda 7 Perawat Diploma III 5 Orang 2 Orang Honda 8 Perawat SPK 2 Orang 9 Perawat Gigi 2 Orang 10 Bidan Diploma III 6 Orang 11 Bidan Diploma I - 12 Sanitarian Diploma I 1 Orang 13 Analis Kesehatan 1 Orang 14 Asisten Apoteker 2 Orang 15 Petugas Gizi Diploma III 1 Orang 16 Petugas Gizi Diploma I 1 Orang 17 Tata Usaha 4 Orang 2 Orang loket 18 Administrator Kesehatan S I 2 Orang Sumber : Data Demografi Puskesmas Gandus Palembang Tahun 2010. 5.1.4 Fasilitas dan Sarana Pelayanan Di dalam Puskesmas Gandus mempunyai bebeapa unit ruangan, sebagai tempat melaksanakan kegiatan yang ada di dalam Puskesmas : Gedung Utama 1 (Yang direhab SCHS) terletak dibagian depan terdiri dari ruangan tempat memberikan pelayanan kepada mastarakat terdiri dari : 1. Ruang Pimpinan Puskesmas Gandus 9 M2 2. Ruang Loket12,5 M2 3. Ruang Apotek 9 M2 4. Ruang BP 12,5 M2 5. Ruang Imunisasi dan Kesehatan Lingkunagan 12 M2 6. Ruang MTBS 9 M2 7. Ruang Tunggu 24 M2 8. Gudang 9 M 9. WC 2 Buah 12 M2 Gedung Utama 2 Terdiri dari : 1. Ruang Poli Gigi dan Mulut 12,5 M2 2. Ruang KIA KB/ Spesialis Kandungan 15 M2 3. Ruang Tata Usaha 9 M2 4. Ruang Perpustakaan 9 M2 5. Ruang Tunggu 9 M2 6. WC 6 M2 7. Ruang Perawatan 24 M2 Gedung 3 Terdiri dari : 1. Laboratorium dengan ukuran 3 m x 6 m = 18 M2 Gedung 4 Terdiri dari : 1. Gudang Obat 12 M2 2. Gizi 24 M2 3. Ruang Jaga Petugas 9 M2 4. WC 4,5 M2 Gedung 5 terdiri dari : 1. Rumah Dinas 54 M2 Puskesmas Gandus secara rutin melaksanakan minilokarya yang diadakan setiap bulan yaitu pada hari selasa minggu keempat. Minilokarya ini bertujuan untuk membahas pencapaian dan kendala pada setiap program, masalah-masalah yang ada di Puskesmas Gandus dan hasil dari penataran Pimpinan dan seluruh Staf Puskesmas. Puskesmas Gandus sendiri mempunyai Indicator PHBS di tatanan Puskesmas Gandus : 1. Tersedia air bersih yang memenuhi syarat 2. Tersedia jamban yang memenuhi syarat 3. Tersedia tempat sampah yang tertutup 4. Tersedia Poster kesehatan paling sedikit 3 macam di rungan tunggu 5. Tersedia radio kaset penyuluhan paling sedikit 3 macam 6. Ada petugas kesehatan yang terampil penyuluh a. Tatanan PHBS di Puskesmas Gandus di Institusi Pendidikan b. Pembelajaran di Puskesmas Gandus dilaksanakan setiap minggu keempat setiap bulan berguna untuk menambah wawasan dan kemampuan seluruh staf Puskesmas Gandus 7. Tidak merokok, tidak ada asbak dan abunya 8. Semua petugas punya kuku pendek dan bersih 1. Visi Tercapainya masyarakat Kecamatan Gandus Sehat yang bertumpu pada pelayanan kesehatan bermutu dan peran serta masyarakat. 2. Misi 1. Meningkatkan kemampuan propesionalisme tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan masyarakat 2. Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan, keterjangkawan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas, Pustu, Poskeskel, Posyandu Kecamatan Gandus 3. Menyelenggarakan pembangunan masyarakat berwawasan kesehatan di wilayah Kecamatan Gandus 4. Meningkatkan sarana dan prasarana kesehatan yang bermutu. 3. Motto Anda sehat kami bangga. 5.2 Analisis Data 5.2.1 Analisis Univariat Analisa univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi dan persentase dari tiap variabel independen (umur, paritas, dan jarak kehamilan), dan variabel dependen (ibu hamil dengan anemia). Ditampilkan dalam bentuk tabel dan teks yang akan diuraikan sebagai berikut : 1. Kejadian Anemia Populasi pada penelitian ini sebanyak 750 orang dengan besar sampel 150 sampel dengan desain penelitian Cross Sectional. 2. Umur Berdasarkan karakteristik umur responden dibagi menjadi dua kategori yaitu risiko tinggi (<20 - >35 tahun), dan risiko rendah (20 – 35 tahun). Adapun tabel distribusi frekuensinya sebagai berikut : Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Kejadian Anemia Berdasarkan Kelompok Umur di Puskesmas Gandus Palembang Tahun 2010 No Umur Anemia Tidak Anemia f % f % 1 Risiko tinggi 28 50,0 28 50,0 2 Risiko rendah 21 22,3 73 77,7 Berdasarkan tabel 5.3 kejadian anemia banyak terjadi pada responden dengan kelompok umur risiko tinggi sebesar 28 orang (50,0%), sedangkan pada umur risiko rendah sebesar 21 orang (22,3%). 3. Paritas Paritas dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu paritas tinggi (>3 orang anak), dan paritas rendah (<3 orang anak). Adapun tabel distribusi frekuensinya sebagai berikut : Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Kejadian Anemia Berdasarkan Tingkat Paritas di Puskesmas Gandus Palembang Tahun 2010 No Paritas Anemia Tidak Anemia f % f % 1 Paritas tinggi 28 50,9 27 49,1 2 Paritas rendah 21 22,1 74 77,9 Berdasarkan tabel 5.4 kejadian anemia banyak terjadi pada responden dengan tingkat paritas tinggi yaitu sebesar 28 orang (50,9%), sedangkan pada tingkat paritas rendah sebesar 21 orang (22,1%). 4. Jarak Kehamilan Jarak kehamilan dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu risiko jika jarak kehamilan (<2 tahun), dan risiko rendah jika jarak kehamilan (≥2 tahun). Adapun tabel distribusi frekuensinya sebagai berikut : Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Kejadian Anemia Berdasarkan Jarak Kehamilan di Puskesmas Gandus Palembang Tahun 2010 No Jarak Kehamilan Anemia Tidak Anemia f % f % 1 Risiko tinggi 28 48,3 30 51,7 2 Risiko rendah 21 22,8 71 77,2 Berdasarkan tabel 5.5 kejadian anemia banyak terjadi pada responden dengan jarak kehamilan risiko tinggi sebesar 28 orang (48,3%), sedangkan risiko rendah sebesar 21 orang (22,8%). 5.2.1 Analisis Bivariat Analisis Bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel independen (umur, paritas, dan jarak kehamilan), dengan variabel dependen (ibu hamil dengan anemia) dengan menggunakan uji ststistik Chi-Square (X²) pada α=0,05 dan CI 95%. 1. Hubungan Umur Dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil Penelitian ini untuk melihat hubungan antara variabel umur dengan kejadian anemia pada ibu hamil dapat dilihat pada tabel 5.4 Tabel 5.6 Hubungan Umur Dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil di Puskesmas Gandus Palembang Tahun 2010 Umur Anemia Pada Ibu Hamil Total α X² OR (CI95 %) Ya % Tidak % Risiko tinggi 28 50,0 28 50,0 56 0,000 12,206 3,4 1,702-7,100 Risiko rendah 21 22,8 73 77,7 94 Berdasarkan tabel 5.6 kejadian anemia banyak terjadi pada responden dengan kelompok umur risiko tinggi sebesar 28 orang (50,0%), sedangkan pada umur risiko rendah sebesar 21 orang (22,3%). Berdasarkan hasil uji statistic Chi-Square (X²) dapat dilihat bahwa nilai α=0,000 (X²=12,206) dan CI 95% = 1,702-7,100. hal ini dapat dikatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara umur dengan kejadian anemia. Nilai OR=3,4. Hal ini dapat dikatakan bahwa ibu hamil pada kelompok umur risiko tinggi mempunyai risiko untuk mengalami anemia sebesar 3,4 kali. 2. Hubungan Paritas Dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil Penelitian ini untuk melihat hubungan antara variabel Paritas dengan kejadian anemia pada ibu hamil dapat dilihat pada tabel 5.4 Tabel 5.7 Hubungan Paritas Dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil di Puskesmas Gandus Palembang Tahun 2010 Paritas Anemia Pada Ibu Hamil Total α X² OR (CI95 %) Ya % Tidak % Tinggi 28 50,9 27 49,1 55 0,000 13,139 3,6 1,784-7,486 Rendah 21 22,1 74 77,9 95 Berdasarkan tabel 5.7 kejadian anemia banyak terjadi pada responden dengan kelompok tingkat paritas tinggi yaitu sebesar 28 orang (50,9%), sedangkan pada kelompok tingkat paritas rendah sebesar 21 orang (22,1%). Berdasarkan hasil uji statistic Chi-Square (X²) dapat dilihat bahwa nilai α=0,000 (X²=13,139) dan CI 95% = 1,784-7,486. Hal ini dapat dikatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara umur dengan kejadian anemia. Nilai OR=3,6, hal ini dapat dikatakan bahwa ibu hamil pada kelompok tingkat paritas tinggi mempunyai risiko untuk mengalami anemia sebesar 3,6 kali. 3. Hubungan Jarak kehamilan Dengan Kejadian Anemia pada Ibu hamil Penelitian ini untuk melihat hubungan antara variabel jarak kehamilan dengan kejadian anemia pada ibu hamil dapat dilihat pada tabel 5.8 Tabel 5.8 Hubungan Jarak Kehamilan Dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil di Puskesmas Gandus Palembang Tahun 2010 Jarak Kehamilan Anemia Pada Ibu Hamil Total α X² OR (CI95 %) Ya % Tidak % Risiko 28 48,3 30 51,7 58 0,001 10,475 3,1 1,553-6,410 Tidak risiko 21 22,8 71 77,2 92 Berdasarkan tabel 5.8 kejadian anemia banyak terjadi pada responden dengan kelompok jarak kehamilan risiko tinggi sebesar 28 orang (48,3%), sedangkan risiko rendah sebesar 21 orang (22,8%). Berdasarkan hasil uji statistic Chi-Square (X²) dapat dilihat bahwa nilai α=0,001 (X²=10,475) dan CI 95% = 1,553-6,410. hal ini dapat dikatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara umur dengan kejadian anemia. Nilai OR=3,1. Hal ini dapat dikatakan bahwa ibu hamil pada kelompok tingkat paritas tinggi mempunyai risiko untuk mengalami anemia sebesar 3,1 kali. BAB VI PEMBAHASAN Penelitian ini menggunakan desain penelitian Cross-Sectional, dengan variabel independen (umur, paritas, dan jarak kehamilan), dan variabel dependen (ibu hamil dengan anemia). Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 13 juni – 18 juni 2011 selama 1 minggu, dengan menggunakan Chek list sebagai alat pengumpulan data dengan menggunakan uji statistik Chi-Square (X²) dengan α=0,05 dan CI 95%. 6.1 Umur Berdasarkan hasil penelitian unuvariat didapat bahwa kejadian anemia banyak terjadi pada responden dengan kelompok umur risiko tinggi sebesar 28 orang (50,0%), sedangkan pada umur risiko rendah sebesar 21 orang (22,3%). Berdasarkan hasil uji statistic Chi-Square (X²) dapat dilihat bahwa nilai α=0,000 (X²=12,206) dan CI 95% = 1,702-7,100. hal ini dapat dikatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara umur dengan kejadian anemia. Nilai OR=3,4. Hal ini dapat dikatakan bahwa ibu hamil pada kelompok umur risiko tinggi mempunyai risiko untuk mengalami anemia sebesar 3,4 kali. Menurut Ridwan (2004), analisis hubungan umur ibu dengan kejadian anemia dan responden yang paling banyak menderita anemia adalah responden dengan umur <20 dan >35 tahun sebanyak 20 orang (74,1%) dan pada umur 20-35 tahun sebanyak 51 orang (50.5%) yang menderita anemia. Hasil analiis uji statistik diperoleh nilai OR sebesar 2.8 dengan nilai CI 95% = 1.089-7.207. Umur seorang ibu berkaitan dengan alat – alat reproduksi wanita. Umur reproduksi yang sehat dan aman adalah umur 20–35 tahun. Kehamilan diusia <20 dan >35 tahun dapat menyebabkan anemia karena pada kehamilan diusia <20 tahun secara biologis belum optimal emosinya cenderung labil, mentalnya belum matang sehingga mudah mengalami keguncangan yang mengakibatkan kurangnya perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan zat – zat gizi selama kehamilannya. Sedangkan pada usia >35 tahun terkait dengan kemunduran dan penurunan daya tahan tubuh serta berbagai penyakit yang sering menimpa diusia ini. Hasil analisis didapatkan bahwa umur ibu pada saat hamil sangat berpengaruh terhadap kajadian anemia, dengan OR sebesar 2,801 dengan nilai CI 95% = 1,089 – 7,207. Menurut Sarwono (2006), Umur >35 tahun mempunyai risiko untuk hamil karena umur >35 tahun, dimana alat reproduksi ibu hamil sudah menurun dan kekuatan untuk mengejan saat melahirkan sudah berkurang sehingga anemia pun terjadi pada saat ibu hamil umur >35 tahun. Menurut Wahyudin (2008), keadaan yang membahayakan saat hamil dan meningkatkan bahaya terhadap bayinya adalah saat usia <20 tahun atau >35 tahun. Kejadian anemia pada ibu hamil pada usia <20 tahun, karena ibu muda tersebut membutuhkan zat besi lebih banyak untuk keperluan pertumbuhan diri sendiri serta bayi yang akan di kandungnya. Menurut Pahriansjah (2009), secara teori umur <20 tahun secara biologis mentalnya belum optimal dengan emosi yang cenderung labil, mental yang belum matang sehingga mudah mengalami keguncangan yang mengakibatkan kekurangan perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan zat gizi terkait dengan pemunduran dan penurunan daya tahan tubuh serta berbagai penyakit yang sering menimpa diusia ini. Berbagai faktor yang saling berpengaruh dan tidak menutup kemungkinan usia yang matang sekalipun untuk hamil yaitu usia 25-35 tahun angka kejadian anemia jauh lebih tinggi. Menurut Soebroto (2010), umur <20 tahun membutuhkan zat besi lebih banyak untuk keperluan pertumbuhan diri sendiri serta janin yang akan dikandungnya. Sedangkan zat besi yang dibutuhkan selama hamil sebanyak 17 mg. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa ada hubungan yang disebabkan karena ibu pada kelompok umur <20 tahun membutuhkan zat besi lebih banyak untuk keperluan pertumbuhan diri sendiri serta janin yang akan dikandungnya. Sedangkan zat besi yang dibutuhkan selama hamil sebanyak 17 mg, jika kebutuhan zat besi tidak mencukupi maka dapat menyebabkan anemia. Umur >35 tahun mempunyai risiko untuk hamil karena umur >35 tahun, dimana alat reproduksi ibu hamil sudah menurun dan berkurang sehingga dapat terjadi anemia. 6.2 Paritas Berdasarkan hasil penelitian unuvariat didapat bahwa kejadian anemia banyak terjadi pada responden dengan kelompok tingkat paritas tinggi yaitu sebesar 28 orang (50,9%), sedangkan pada kelompok tingkat paritas rendah sebesar 21 orang (22,1%). Berdasarkan hasil uji statistic Chi-Square (X²) dapat dilihat bahwa nilai α=0,000 (X²=13,139) dan CI 95% = 1,784-7,486. hal ini dapat dikatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara umur dengan kejadian anemia. Nilai OR=3,6. Hal ini dapat dikatakan bahwa ibu hamil pada kelompok tingkat paritas tinggi mempunyai risiko untuk mengalami anemia sebesar 3,6 kali. Menurut Ridwan (2004), analisis hubungan paritas dengan kejadian anemia dan responden yang paling banyak menderita anemia adalah pada paritas 2-3 dengan jumlah 61 orang (62,5%) dan terendah pada responden yang paritas <1 / >4 dengan jumlah 10 orang (54,5%). Hasil analisis uji statistik diperoleh nilai OR sebesar 1,393 dengan nilai CI 95% = 0,474 – 4,096. Paritas adalah jumlah anak yang telah dilahirkan oleh seorang ibu baik lahir hidup maupun lahir mati. Seorang ibu yang sering melahirkan mempunyai risiko mengalami anemia pada kehamilan berikutnya apabila tidak memperhatikan kebutuhan nutrisi. Karena selama hamil zat – zat gizi akan terbagi untuk ibu dan untuk janin yang dikandungnya. Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara parites dengan kejadian anemia pada ibu hamil, karena nilai 1 berada antara batas bawah dan batas atas dengan OR sebesar 1,393 dengan nilai CI 95% = 0,474 - 4,096. Menurut Fahriansjah (2009), paritas adalah jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang ibu baik lahir hidup maupun lahir mati. Seorang ibu yang sering melahirkan mempunyai risiko untuk mengalami anemia pada kehamilan berikutnya apabila tidak memperhatikan nutrisi karena selama hamil zat gizi akan terbagi untuk ibu dan janin yang dikandungnya. Menurut Sarwono (2006), menyatakan bahwa paritas merupakan paling aman ditinjau dari sudut kematian maternal. Paritas tinggi >3 mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi, lebih tinggi paritas, lebih tinggi kematian maternal. Risiko pada paritas I dapat ditengani dengan asuhan obstetric lebih baik, sedangkan risiko pada paritas tinggi dapat dikurangi/ dicegah dengan keluarga berencana. Menurut Soebroto (2010), paritas >3 tahun dapat meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan, seperti meningkatkan risiko terjadinya kematian janin didalam kandungan dan pendarahan sebelum dan setelah melahirkan, lebih sering dijumpai pada wanita hamil yang anemia dan hal ini dapat berakibat vatal, sebab wanita hamil yang anemia tidak dapat mentoleransi kehilangan darah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan Seorang ibu yang sering melahirkan mempunyai risiko mengalami anemia pada kehamilan berikutnya apabila tidak memperhatikan kebutuhan nutrisi. Karena selama hamil zat – zat gizi akan terbagi untuk ibu dan untuk janin yang dikandungnya. 6.3 Jarak Kehamilan Berdasarkan hasil penelitian unuvariat didapat bahwa kejadian anemia banyak terjadi pada responden dengan kelompok jarak kehamilan risiko tinggi sebesar 28 orang (48,3%), sedangkan risiko rendah sebesar 21 orang (22,8%). Berdasarkan hasil uji statistic Chi-Square (X²) dapat dilihat bahwa nilai α=0,001 (X²=10,475) dan CI 95% = 1,553-6,410. hal ini dapat dikatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara umur dengan kejadian anemia. Nilai OR=3,1. Hal ini dapat dikatakan bahwa ibu hamil pada kelompok tingkat paritas tinggi mempunyai risiko untuk mengalami anemia sebesar 3,1 kali. Menurut Ridwan (2004), analisis hubungan jarak kehamilan dengan kejadian anemia dan responden yang paling banyak menderita anemia adalah responden dengan jarak kehamilan <2 tahun sebanyak 41 orang (66,1%), dan terendah pada responden dengan jarak kehamilan >2 tahun sebanyak 30 orang (45.5%). Hasil analiis uji statistik diperoleh nilai OR sebesar 2.343 dengan nilai CI 95% = 1.146 - 4.790. Jarak kehamilan adalah waktu sejak ibu hamil sampai terjadinya kehamilan berikutnya. Jarak kehamilan yang terlalu dekat dapat menyebabkan terjadinya anemia. Hal ini dikarenakan kondisi ibu masih belum pulih dan pemenuhan kebutuhan zat–zat gizi belum optimal, sudah harus memenuhi kebutuhan nutrisi janin yang dikandung. Berdasarkan analisis data diperoleh bahwa reponden paling banyak menderita anemia pada jarak kehamilan <2 tahun. Hasil uji memperlihatkan bahwa jarak kelahiran mempunyai risiko lebih besar terhadap kejadian anemia, karena nilai 1 berada antara batas bawah dan batas atas dengan OR sebesar 2,343 dengan nilai CI 95% = 1,146 - 4,790. Menurut Wahyudin (2008), Jarak kehamilan adalah waktu sejak ibu hamil sampai terjadi kelahiran berikut. Jarak kelahiran terlalu dekat dapat menyebabkan terjadi anemia. Menurut Fahriansjah (2009), Salah satu penyebab yang dapat mempercepat terjadinya anemia pada wanita hamil adalah jarak kehamilan pendek. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan responden paling banyak menderita anemia pada jarak kehamilan <2 tahun. Hasil uji memperlihatkan bahwa adanya hubungan antara jarak kelahiran <2 tahun dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Jarak kehamilan yang terlalu dekat dapat menyebabkan terjadinya anemia karena kondisi ibu masih belum pulih dan pemenuhan kebutuhan zat-zat gizi belum optimal, sudah harus memenuhi kebutuhan nutrisi janin yang dikandungnya. BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa: 7.1.1 Ada hubungan yang bermakna antara umur dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Berdasarkan hasil uji statistic Chi-Square (X²) dapat dilihat bahwa nilai α=0,000 (X²=12,206) dan CI 95% = 1,702-7,100. hal ini dapat dikatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara umur dengan kejadian anemia. Nilai OR=3,4. Hal ini dapat dikatakan bahwa ibu hamil pada kelompok umur risiko tinggi mempunyai risiko untuk mengalami anemia sebesar 3,4 kali. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan ibu pada kelompok umur <2 tahun membutuhkan zat besi lebih banyak untuk keperluan pertumbuhan diri sendiri serta janin yang dikandungnya. Sedangkan zat besi yang dibutuhkan selama hamil sebanyak 17 mg, jika kebutuhan zat besi tidak mencukupi maka dapat menyebabkan anemia, Untuk >35 tahun mempunyai risiko untuk hamil karena >35 tahun, dimana alat reproduksi ibu hamil sudah menurun dan kekuatan untuk mengejan saat melahirkan sudah berkurang sehingga anemia pun terjadi pada saat ibu hamil umur >35 tahun. 7.1.2 Ada hubungan yang bermakna antara paritas dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Berdasarkan hasil uji statistic Chi-Square (X²) dapat dilihat bahwa nilai α=0,000 (X²=13,139) dan CI 95% = 1,784-7,486. hal ini dapat dikatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara umur dengan kejadian anemia. Nilai OR=3,6. Hal ini dapat dikatakan bahwa ibu hamil pada kelompok tingkat paritas tinggi mempunyai risiko untuk mengalami anemia sebesar 3,6 kali. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan Seorang ibu yang sering melahirkan mempunyai risiko mengalami anemia pada kehamilan berikutnya apabila tidak memperhatikan kebutuhan nutrisi. Karena selama hamil zat – zat gizi akan terbagi untuk ibu dan untuk janin yang dikandungnya. 7.1.3 Ada hubungan yang bermakna antara jarak kehamilan dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Berdasarkan hasil uji statistic Chi-Square (X²) dapat dilihat bahwa nilai α=0,001 (X²=10,475) dan CI 95% = 1,553-6,410. hal ini dapat dikatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara umur dengan kejadian anemia. Nilai OR=3,1. Hal ini dapat dikatakan bahwa ibu hamil pada kelompok tingkat paritas tinggi mempunyai risiko untuk mengalami anemia sebesar 3,1 kali. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan responden paling banyak menderita anemia pada jarak kehamilan <2 tahun. Hasil uji memperlihatkan bahwa adanya hubungan antara jarak kelahiran <2 tahun dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Jarak kehamilan yang terlalu dekat dapat menyebabkan terjadinya anemia karena kondisi ibu masih belum pulih dan pemenuhan kebutuhan zat-zat gizi belum optimal, sudah harus memenuhi kebutuhan nutrisi janin yang dikandungnya. 7.2 Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka ada beberapa saran yang diajukan, meliputi : 7.2.1 Bagi Petugas Kesehatan Puskesmas Gandus Palembang Diharapkan kepada pihak Puskesmas Gandus Palembang khususnya petugas ruang kebidanan dapat meningkatkan penyuluhan kepada remaja, PUS (pasangan usia subur) dan ibu hamil terutama tentang komplikasi pada anemia pada ibu hamil dengan mengembangkan program KIE (komunikasi, informasi, edukasi, dan konseling) mengenai penenganan secara dini tentang komplikasi yang mungkin terjadi sehingga AKI dan AKB dapat menurun. 7.2.2 Bagi Institusi Pendidikan Pendidikan diharapkan dapat meningkatkan sumber-sumber bacaan baik buku-buku maupun majalah kesehatan tentang anemia yang dapat digunakan untuk menambah ilmu dan pengetahuan serta dapat digunakan untuk melengkapi refrensi perpustakaan yang menunjang penelitian selanjutnya. 7.2.3 Bagi Peneliti Selanjutnya Diharapkan agar dapat meneliti variabel lain seperti ANC dan Status Gizi yang dan mencakup penelitian yang lebih luas dengan metode penelitian yang berbeda seperti Case Kontrol dan Kohort. Terutama yang berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Sehingga penelitian tentang anemia pada kehamilan dapat terus berkembang. DAFTAR PUSTAKA Amiruddin. 2007. Studi Kasus Kontrol Anemia Ibu Hamil. Journal medica Unhas (http://ridwanamiruddin.wordpress.com. Diakses tanggal 12 Maret 2011). Fahriansjah, FW. 2009. Hubungan Karakteristik Ibu Hamil Dengan Kejadian Anemia di Rumah Sakit Bersalin SITI KHADIJAH 1V MAKASSAR Periode Januari – Desember2008.(http://asramamedicafkunhas.blogspot.com/2009/04/hhubungan-karakteristik-ibu-hamil-dengan.html, Diakses tanggal 12 maret 2011). Fatmah. 2008. Gizi Dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rajagrafindo Persada. Hani, Ummi. 2010. Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan Fisiologis. Jakarta : Salemba Medika. Herlina, Nina dkk. 2009. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil. (http://irvantonius.blogspot.com/2010/02/faktor-faktor-yang-berhubungan-dengan_07.html, Diakses tanggal 12 maret 2011). Kusumawardani, Endah. 2010. Waspada Penyakit Darah Mengintai Anda. Yogyakarta: Hanggar Kreator. Notoadmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBP-SP. Prawirohardjo, Sarwono. 2006. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBP-SP. Prawirohardjo, Sarwono. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBP-SP. Ridwan. 2004. Studi Kasus Kontrol Anemia Ibu Hamil. Journal medica Unhas (http://ridwanamiruddin.wordpress.com. Diakses tanggal 07 maret 2011). SDKI, 2003. Kematian maternal. (http://himapid.blogspot.com/2009/03/kematian maternal.html. diakses 05 maret 2011). Saifuddin, Abdul Bari. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBP-SP. Soebroto, Ikhsan. 2010. Cara Mudah Mengatasi Problem Anemia. Jogjakarta : Bangkit. Tarwoto, Ns dkk. (2007). Buku Saku Anemia Pada Ibu Hamil. Jakarta: Trans Info Media. Varney. 2004, Ilmu Kebidanan, Bandung : Sekoloa Publisher. Wahyudin. 2008, Studi Kasus Kontrol Anemia Ibu Hamil. (http://wikimedia. Blokspot.com/2010/04/faktor-faktor-yang-berhubungan-dengan.html, Diakses tanggal 11 maret 2011). Wiknjosastro, Hanifa. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta : YBP-SP.

0 komentar:

Poskan Komentar